Monggo

Selamat Datang
Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image >

Seru-seruan bareng HW

0 komentar

 





















Struktur HW

0 komentar


Pembina I                               : Ismail Budi Santoso S.E
Pembina II                              : Dian Noviana Sp.d

                   Ketua                                     : M. Ardianto
                    Wakil Ketua                          : Vidia Oktaviana
                   Sekretaris                              : Khoirun Nisa’
                   Bendahara                             : Intan Sholikhati

                   Seksi Acara                           : Moh. Aji Syah Putra
                                                                      Wika Rahayu
                                                                      Eva shevilla

                   Seksi Perlengkapan             : Riki Subastian
 Amri Dinulkhaq
 Fatma Fitri
                                                                    Istiani

                   Seksi Keamanan                  : Hilman Hari Wijaya
                                                                    Nanang Attakhul Khilmi
                                                                    Ernawati

New Lirik Mars HW

0 komentar

Mars Hizbul Wathan Lirik Baru

Hizbul Wathan Muhammadiyah tetap pesat berkembang
Diseluruh Indonesia bukan disini saja
Memegang amanahnya menjunjung agama
Teguh hati sebagai baja menjalankan kwajiban
Dengan sopan serta perwira
Sama – sama fakir dan kaya
punya haluan sedikit bicara banyk bekerja

Kilas Sejarah

0 komentar

Lahirnya Hizbul Wathan


KH. Ahmad Dahlan
(Pendiri Muhammadiyah dan Hizbul Wathan)

SEJARAH SINGKAT PANDU HIZBUL WATHAN
DETIK DETIK LAHIRNYA HW
Pada suatu hari (Ahad) KH. Ahmad Dahlan memanggil beberapa guru Muhammadiyah : Bp. Somodirdjo (Mantri Guru Standart School Suronatan), Bp. Syarbini dari sekolah Muhammadiyah Bausasran dan seorang lagi dari Sekolah Muhammadiyah Kota Gede.
KH. Ahmad Dahlan berkata kira-kira demikian :
“Saya tadi pagi di Solo sepulang dari Tabligh sampai di muka Pura Mangkunegaran di alun-alun Surakarta melihat anak-anak baris-berbaris, sebagian bermain-main, semuanya berpakaian seragam, baik sekali! Apa itu??”.
Bp. Somodirjo menjelaskan bahwa itu adalah Pandu Mangkunegaran yang namanya JPO (Javaanche Padvinderij Organisatie) ialah suatu gerakan pendidikan anak-anak diluar sekolah dan rumah.
Mendengar keterangan tersebut KH. Ahmad Dahlan menyambut :
“Alangkah baiknya kalau anak-anak keluarga Muhammadiyah juga dididik semacam itu untuk leladi menghamba kepada Allah, selanjutnya beliau mengharap kepada para guru untuk mencontoh gerakan pendidikan itu”.
Bp. Somodirdjo dan Bp. Syarbini mempelopori mengadakan persiapan – persiapan akan mengadakan gerakan pendidikan untuk anak-anak diluar sekolah dan rumah. Mula-mula yang digerakkan untuk latihan adalah para guru-guru sendiri dulu. Pendaftaran dimulai dan latihan pun diadakan di SD Muhammadiyah Suronatan tiap Ahad Sore. Latihan meliputi baris-berbaris, bermain tambur dan olahraga, kemudian ditambah dengan PPPK dan kerohanian. Bp. Syarbini adalah seorang pemuda yang pernah mendapat pendidikan kemiliteran melatih baris-berbaris. Banyak pemuda yang tertarik sehingga pengikut latihan semakin banyak. Akhirnya diadakan penggolongan yakni golongan dewasa dan anak-anak.

PADVINDER MUHAMMADIYAH
Tahun 1918 adalah saat Gerakan Hizbul wathan melangkahkan langkahnya yang pertama dengan nama Padvinder Muhammadiyah. Nama tersebut semakin populer. Untuk pengawasan Gerakan padvinder Muhammadiyah ini diserahkan kepada Muhammadiyah bagian sekolahan. Oleh Muhammadiyah bagian sekolahan tersebut dibentuklah pengurus sebagai berikut :
Ketua : H. Muchtar
Wakil Ketua : H. Hadjid
Sekretaris : Somodirdjo
Keuangan : Abdul Hamid
Organisasi : Siradj Dahlan
Komando : Sjarbini dan Damiri
Untuk memajukan gerakan tersebut, direncanakan akan mengadakan studi ke JPO Solo. Agar kunjungan ke JPO Solo tersebut meriah, bagian sekolahan mengusahakan uniform, kemeja drill kuning dan kemeja drill biru, sedang untuk setangan leher untuk mudahnya menggunakan kacu yang banyak dijual ialah kacu merah berbintik hitam.
Kedatangan Padvinder Muhammadiyah menggemparkan kota Solo. Di lapangan mangkunegaran diadakan demonstrasi-demonstrasi dan macam-macam permainan sebagai perkenalan. Padvinder Muhammadiyah mendapat pelajaran yang sangat berharga dalam kunjungan ke JPO Solo.

NAMA HIZBUL WATHAN
Sepulang dari kunjungan ke JPO Solo tersebut dibicarakan nama dari Padvinder Muhammadiyah. Di rumah Bp. H. Hilal Kauman, RH. Hadjid mengajukan nama yang dianggap cocok pada waktu itu yaitu HIZBUL WATHAN, yang berarti Pembela Tanah Air. Hal ini mengingat adanya pergolakan-pergolakan di luar negeri maupun di dalam negeri yaitu masa berjuang melawan penjajah Belanda.
Nama HIZBUL WATHAN sendiri berasal dari nama kesatuan tentara Mesir yang sedang berperang membela tanah airnya. Dengan kata sepakat nama HIZBUL WATHAN dipakai mengganti nama “Padvinder Muhammadiyah“ tahun 1920.
Kejadian itu bertepatan dengan peristiwa akan turunnya dari tahta Paduka Sri Sultan VII di Yogyakarta. Untuk turut menghormat dan akan ikut mengiringkan pindahnya Sri Sultan VII dari keraton ke Ambarukmo, diadakan persiapan-persiapan dam latihan. Pada tanggal 30 Januari 1921 barisan HW keluar turut mengiringkan Sri Sultan VII pindah dari keraton ke Ambarukmo. Keluarga HW mendapat penuh perhatian dari khalayak ramai. Dari saat itulah HW terkenal pada umum. Hal ini ditambah lagi sesudah beberapa hari kemudian HW berbaris dalam perayaan penobatan Sri Sultan VIII. Perayaan diadakan di alun-alun utara Yogyakarta. HW turut pula dengan mengadakan demonstrasi dimuka panggung dimana Sri Sultan VIII dengan para tamu menyaksikannya.
HW telah menjadi buah bibir masyarakat. Demikianlah uniform HW mulai dikenal masyarakat. Maka tidak heranlah, kalau kadang-kadang kalau ada anak Belanda atau Cina berpakaian Padvinder (NIPV) dikatakan : “Lho, itu ada HW Landa, Lho itu ada HW Cina”, yang sebetulnya yang dimaksud adalah Padvinder NIPV, bahkan setiap ada anak berpakaian pandu selalu dikatakan Pandu HW.
Pada tanggal 13 Maret 1921 KH. Fachrudin menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya yang diantar oleh barisan Pandu HW dan Warga Muhammadiyah sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. KH. Fachrudin sempat berpesan didepan anggota-anggota HW dengan menanamkan anti penjajah pada anak HW :
“Tongkat-tongkat yang kamu panggul itu pada suatu ketika nanti akan menjadi senapan dan bedil”
Pesan KH. Fachrudin itu ternyata benar, karena beberapa tahun kemudian banyak anggota HW yang memegang senjata pada Zaman Jepang dengan memasuki barisan PETA (Pembela Tanah Air) seperti : Suharto (Presiden), Sudirman (Panglima Besar TNI), Mulyadi Joyomartono, Kasman Singodimejo, Yunus Anis, dll.
Pesatnya kemajuan HW rupaya mendapat perhatian dari NIPV (perkumpulan kepanduan Hindia belanda sebagai cabang dari kepanduan di Negeri Belanda(NPV)). Pada waktu itu gerakan kepanduan yang mendapat pengakuan dari Internasional hanyalah yang bergabung dalam NIPV tersebut.

HW MENOLAK BERGABUNG DENGAN NIPV
M. Ranelf seorang pemimpin dari NIPV dan yang memegang perwakilan NPV telah datang di Yogyakarta menemui pimpinan HW, mengajak supaya HW masuk ke dalam organisasi NIPV. Usaha-usaha Ranelf selaku komisaris NIPV tiada hentinya untuk menarik HW menjadi anggota NIPV sehingga ketika Konggres Muhammadiyah tahun 1926 di Surabaya, ia mengikuti Konggres Muhammadiyah dari awal sampai dengan selesai.
Selanjutnya diadakan pertemuan lagi di Yogyakarta oleh wakil NIPV, mengajak HW masuk kedalam organisasi NIPV. HW mempunyai prinsip-prinsip yang sukar diterima oleh Padvinder. Adapun HW jika dikatakan itu bukan Padvinder, bagi HW tidak keberatan. HW adalah Hizbul Wathan, mau dikatakan itu padvinder atau bukan terserah yang mau mengatakannya.
KH. Fachrudin mengetahui bahwa NIPV merupakan kepanduan yang bersifat ke Belanda an dan merupakan alat dari penjajah Belanda, sehingga ajakan tersebut ditolak HW. Alasan HW menolak ajakan tersebut karena HW sudah mempunyai dasar sendiri yaitu Islam, dan HW sudah mempunyai induk sendiri yaitu Muhammadiyah. Sesuai dengan induknya HW bersemangat anti penjajah, HW tidak dapat diatur menurut aturan NIPV.

HW PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Pada permulaan jaman Jepang HW masih nampak kegiatannya, bahkan ikut pawai yang diadakan oleh Jepang dalam rangka merayakan UlangTahun Tenno Heika, sedangkan yang memimpin pawai tersebut Bp. Haiban Hadjid. HW terpilih untuk ikut serta dalam pawai tersebut karena HW dalam baris-berbaris terkenal bagus dibandingkan dengan kepanduan lainnya. Oleh karena itu pandu-pandu dari organisasi lain memberi identitas HW sebagai PANDU MILITER.
Kepanduan pada permulaan perndudukan Jepang namapknya akan mendapat kesempatan hidup terus. Namun tidak lama kemudiansecara terang-terangan Jepang melarang berdirinya organisasi-organisasi kepanduan serta pergerakan lainnya.
Sehingga semua pandu-pandu di Indonesia tidak aktif dari kegiatannya.

PADA MASA KEMERDEKAAN
Sesudah proklamasi kemerdekaan timbullah keinginan untuk menghidupkan kembali organisasi kepanduan Indonesia. Sedang bentuk dan sifatnya harus sesuai dengan keadaan, yakni suatu organisasi kepanduan yang bersatu meliputi seluruh Indonesia dan tidak terpecah belah.
Pada akhir bulan September 1945 di Balai Mataram Yogyakarta berkumpullah beberapa orang pemimpin pandu. Dari HW hadir Bp. M. Mawardi dan Bp. Haiban Hadjid.
Pada tanggal 27 – 29 Desember 1945 diadakan konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia yang hadir lebih kurang 300 orang. Termasuk utusan dari HW. Dalam konggres ini dengan suara bulat diputuskan membentukPANDU RAKYAT INDONESIA.
Anggota pengurus Kwartir Besar Pandu Rakyat Indonesia antara lain : Dr. Mawardi (KBI), Hertog (KBI), Abdul Ghani (HW), Jumadi (HW).
Tahun 1948 terjadilah aksi polisionil ke 2, Belanda mendudukiYogyakarta, Ibu Kota RI.
Konggres pandu Rakyat kedua diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 20 sampai dengan 22 Januari 1950. Keputusan-keputusan yang dihasilakn dalam konggres Pandu Rakyat Indonesia yaitu antara lainmenerima konsepsi baru yang memberi kesempatan kepada bekas pemimpin pandu untuk menghidupkan kembali organisasinya masing-masing.

AMANAT PANGSAR JENDERAL SUDIRMAN
Pada hari Ahad Legi 19 Desember 1948 Belanda menyerbu dan menduduki Ibu Kota RI Yogyakarta dan menangkap Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa pemimpin Indonesia lainnya, tetapi bukan berarti RI telah jatuh. Pangsar Jenderal Sudirman (Pandu HW) meskipun dalam keadaan sakit beliau pantang menyerah, keluar kota untuk memimpin perang gerilya.
Pada tanggal 29 Juni 1948 Belanda meninggalkan Yogyakarta dan masuklah tentara RI ke Yogyakarta, yang kemudian terkenal dengan Yogya Kembali. Pangsar Jenderal Sudirman masih dalam keadaan dan dirawat di RS Magelang.
M. Mawardi dan beberapa orang wakil dari Muhammadiyah menengok di RS Magelang. Pada saat itu Jenderal Sudirman mengamanatkan kepada Mawardi selaku Wakil Muhammadiyah agar Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan tempat pendidikan untuk CINTA TANAH AIR didirikan lagi. Di samping itu juga untuk melanjutkan tujuan semula pendirian HW yaitu : sebagai kader Muhammadiyah dalam penyebaran agama Islam. Dikatakan bahwa HW merupakan tempat yang baik untuk mendidik anak-anak Muhammadiyah agar kelak menjadi seorang pejuang yang cinta tanh air dan sekaligus taat pada agama. Oleh karena itu dianjurkan pada warga Muhammadiyah agar jangan ragu-ragu lagi untuk mendidik putra-putrinya melalui Kepanduan HW.

APEL PERESMIAN BERDIRINYA KEMBALI HW
Untuk melaksanakan amanat Pangsar Jendral Sudirman pada sore hari tanggal 29 Januari 1950 secara simbolis HW mengadakan apel yang dipimpin oleh Bp. Haiban Hadjid untuk meresmikan berdirinya kembali kepanduan Hizbul Wathan, dan pada malam harinya Pangsar TNI Jenderal Sudirman wafat. Oleh karenanya pada waktu itu ada semboyan :
“HW BANGKIT UNTUK MELANJUTKAN KEPEMIMPINAN JENDERAL SUDRIMAN”
Setelah HW resmi berdiri lagi banyaklah anggota Pandu Rakyat yang dulu juga pandu HW masuk kembali ke dalam Hizbul Wathan.

MAJELIS HW
Kepanduan Hizbul Wathan yang merupakan organisasi bagian Muhammadiyah dalam struktur organisasinya tidak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis HW disingkat dengan Majelis HW adalah suatu badan pembantu Pimpinan Muhammadiyah yang diserahi tugas melaksanakan Pimpinan, usaha Muhammadiyah dalam bidang Ke HW an. Majelis HW adalah sebagai Kwartir Besar HW dan mempunyai Pimpinan langsung ke bawah tingkat daerah, cabang. Anggota Majelis HW terdiri dari anggota Muhammadiyah yang mempunyai keahlian tentang HW. Mereka ditetapkan dan diberhentikan oleh PP Muhammadiyah.

GK

0 komentar


Dikdasmen2logo-hwGERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN
SMK MUHAMMADIYAH BLIGO
KABUPATEN PEKALONGAN
Alamat: Sapugarut Gg.7 Buaran Telp.(0285)4415132 PEKALONGAN 51173

PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan merasa kehilangan jalur yang setrategis untuk membina dan membentuk kader persyarikatan,setelah leburnya Hizbul Wathan(HW)ke dalam pramuka 1961.
            Kebangkitan kembali HW tersebut menunjukan penghormatan dan kemajemukan bangsa Indonesia,Hizbul Wathan menyadari bahwa tantangan yang di hadapi sangatlah besar dan berat,baik dari luar maupun dalam persyarikatan.
HW sekarang telah bangkit di mana-mana,berkat penanganan dan penata’an organisasi yang baik.
            Qobilah yang bermakna tempat tinggal adalah suatu kesatuan organic dalam gerakan Kepanduan Hizbul Wathan yang ,merupakan wadah untuk menghimpun anggota sebagai peserta didik dan pemimpin,jiga pelatih yang akan terjun langsung di Qobilah.
            Bertolak dari kebutuhan yang sangat mendesak bagi terwujudnya Pemimpin dan Pelatih Qobilah, maka Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan SMK MUHAMMADIYAH BLIGO bermaksud menyelenggarakan reorganisasi bagi calon pemimpin dan pelatih.

B.      Maksud dibuatnya Laporan 
·         Sebagai bukti telah terlaksananya kegiatan “Pemantapan Reorganisasi Dan Pembentukan Kepengurusan Beserta Pembuatan Program kerja mingguan periode 2011 / 2012
·         Sebagai sumber pembanding untuk kegiatan yang akan datang
·         Sebagai sarana informasi kepada pihak-pihak yang terkait, terutama pihak lembaga yang telah memberikan banyak dukungan berupa materil maupun moril
·         Sebagai bahan evaluasi bagi para pelaksana kegiatan demi kemajuan bersama Tujuan dibuatnya Laporan 
·         Sebagai bahan analisa, sehingga segala kekurangan yang ada pada penyelenggaraan kegiatan ini dapat diperbaiki dan tidak terulang kembali
·         Sebagai bahan acuan lanjutan dalam melaksanakan  kegiatan yang sejenis seperti  ini, khususnya kepanitiaan yang akan datang
·         Sebagai media informasi secara eksplisit yang bersifat transparansi bagi para siswa

C.      Sasaran
Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat lebih peduli dan berpartisipasi terhadap Ekstarakurikuler Hizbul Wathan, serta dapat mengoptimalkan diri sebagai bentuk peningkatan kualitas diri melalui skill manajerial keorganisasian.
Lebih mengoptimalkan peran lembaga pendidikan dalam menyalurkan aspirasi siswa serta menjadikan keluarga siswa SMK Muhammadiyah Bligo sebagai lembaga pengembangan kreativitas siswa dalam ruang lingkup keilmuan, kegemaran, pengabdian dan keberpihakan social siswa (Ekstrakurikuler).

ISI LAPORAN

PRA-PELAKSANAAN
A.        Nama Kegiatan
Pemantapan Reorganisasi Dan Pembentukan Kepengurusan Beserta Pembuatan Program kerja mingguan periode 2011 / 2012

B.        Tema Kegiatan
“Membekali peserta dengan pengetahuan dan memperkenalkan metode pelatihan kepanduan kepada calon pemimpin agar setelah selesai pelatihan peserta dapat menerapkan pengetahuan dan metode kepanduan Hizbul Wathan yang telah diterimanya di Qobilah masing-masing.
C.        Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari & Tanggal    : Ahad / 25 september 2011
Tempat                 : SMK Muhammadiyah Bligo

D.        Peserta Kegiatan
siswa / siswi SMK Muhammadiyah Bligo kelas XI Semua program keahlian teknik dan bismen
target pesertanya adalah 20 siswa

E.         Pendekatan Materi Kegiatan
1.       Materi Secara Teori
·         Pengenalan Atribut atau Tanda Yang di Kenakan Pada Hizbul Wathan
·         Pengenalan Tentang Asal Muasal  Hizbul Wathan
·         Pengenalan Tematis dengan Tema Hzbul Wathan adalah harapan dan kenyataan”
·         Berbagai Pengalaman Empirik  dengan pengembangan potensi diri atau pindah program studi”
2.       Materi Secara Praktek
·         Diskusi Kelompok

F.         Pelaksana Kegiatan
siswa / siswi SMK Muhammadiyah Bligo kelas XI Semua program keahlian teknik dan bismen

G.       Bentuk Kegiatan
Sarasehan yang dikemas secara simulasi dialogis, praktek dan musyawarah
H.       Kronologis Pra-Pelaksanaan
Pada awal berdirinya Hizbul Wathan sendiri yang diantaranya berada di SMK Muhammadiyah Bligo yang bertujuan untuk melatih kreatifitas,inovasi,dan mandiri dalam situasi apapun,di khususkan juga untuk menciptakan kader-kader  yang bisa di andalkan pada saat sekarang dan nantinya di Sekolah masyarakat maupun umum. Melihat hal tersebut,maka tujuan di adakan Reorganisasi adalah untuk para peserta bekerja sama untuk mempersiapkan kegiatan agar berlangsung dengan baik dan bermanfaat.
Setelah terbentuk tim panitia yang akan bertanggung jawab melaksanakan kegiatan acara, diajukan proposal kepada pihak sekolah untuk mendanani kegiatan tersebut, perkiraan awal dana yang diajukan sebesar Rp.550.000 (limaratus limapuluh riburupiah) terealisasi turun dana sebesar Rp. 350.000(tigaratus limapuluh),dari SMK Muhammadiyah Bligo.

Pelaksanaan  terbentuknya kepengurusan Dewan Kerabat  baru yang akan bertanggung  jawab melaksanakanya seperti yang dilakukan pengurus sebelumnya. Dan dengan didatangkanya pemaeteri dari luar, semoga materi yang disampaikan bisa lebih bermanfaat dan membawa pembaharuan yang lebih baik.
Dari waktu pelaksanaan juga terjadi perubahan, yang sebelumnya kegiatan dijadwalkan pada tanggal 18 September 2011, menjadi tanggal 25 September 2011 disesuaikan dengan kondisi pada saat waktu libur peserta dikarenakan dari beberapa di antaranya melakukan praktek kerja, dan perkiraan target pesertanya adalah 20 siswa, ternyata yang hadir hanya 14 siswa.
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan Pemantapan Reorganisasi Dan Pembentukan Kepengurusan Beserta Pembuatan Program kerja mingguan periode 2011 / 2012ini dilaksanakan di SMK Muhammadiyah Bligo. Acara tersebut diikuti oleh 17 peserta dari siswa kelas XII AK dan XI Teknik & Bismen.
Teknis pelaksanaan kegiatan
Pada hari pertama kegiatan di mulai dengan acara kegitan yang bersifat mengenalkan peserta untuk lebih tahu dinamika program, serta mengajak siswa untuk lebih peduli akan kemajuan program, sebelum akhirpenghujung kegiatan dibentuk kepengurusan yang baru serta terpilihnya saudra Ardianto sebagai ketua Dewan Kerabat dan Vidia oktaviana sebagai Wakil Dewan Kerabat dalam kepengurusan Ekstrakurikuler Hizbul Wathan periode 2011/2012.


Pasca Pelaksanaan
Setelah kegiatan sudah terlaksana kami mengadakan rapat evaluasi lanjutan yang masih harus ditinjau lagi.
Membicarakan persiapan LPJ, evaluasi kinerja dan laporan keuangan dalam bentuk faktor penghambat dan faktor pendukung.

Hambatan dan Masalah
Adapun hambatan dan masalah yang timbul saat Pra Pelaksanaan Kegiatan, Pelaksanaan Kegiatan dan Kegiatan, antara lain:
Selama acara berlangsung kendala yang dihadapi adalah kesiapan perlengkapan yang dibutuhkan selama acara tidak tersedia secara baik (kurang koordinasi antar panitia), kurangnya inisiatif antar panitia yang telah diberikan, ada perubahan susunan acara dimateri ke-V, yang disebabkan oleh kondisi pemateri yang kurang enak badan.
Kurangnya (SDM)sumber daya manusia atau grup piket yang membantu seksi konsumsi, dikarenakan ketidakhadiran panitia.

Kesimpulan dan Saran
                Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan atas terselenggaranya acara ini, yang dengan sedikit jatuh bangun akhirnya dapat berjalan dengan sukses dan lancar. Harapan yang kami ukir melalui acara “Pemantapan Reorganisasi Dan Pembentukan Kepengurusan Beserta Pembuatan Program kerja mingguan periode 2011 / 2012” sedikit membahagiakan dan dapat terlihat betapa antusiasisme dari peserta dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Saran dari kami sebagai panitia adalah semoga dalam kegiatan “Pemantapan Reorganisasi Dan Pembentukan Kepengurusan Beserta Pembuatan Program kerja mingguan periode 2011 / 2012” selanjutnya dapat mempersiapkan agenda kegiatan setepat mungkin dan panitia yang tergabung di dalamnya dapat bekerja dengan maksimal, tidak saling mengandalkan dan sering-seringlah meminta pertimbangan dan masukan dari pihak terkait yang memang telah terbiasa menangani hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan yang sejenis seperti ini.